Senin, 28 Juni 2010


Pagi Bunga Abadi

sesaat aku tertegun, melihat kilau ufuk timur
membias dibalik raksasa hijau yang tertidur kokoh
memberi hangat kepada ku
yang masih menggigil menghapus malam
dari sisasisa belenggu dingin dini hari

kabut kelabu mulai sirna
tak kuasa diterpa fajar yang mengintip ujung langit
Semerbak wangi hijau pagi
jadi antar setapak jejak dimulai
langkah demi langkah

sejuk menerpa, tapi ragu masih tersisa
semak belukar mengantar, terjal menjegal dan tebing tinggi menghalangi
namun ku harus tetap berjalan meski hanya berbekal segenggam bunga abadi
: edelweiss

Tidak ada komentar:

Posting Komentar