Senin, 28 Juni 2010



Kau seperti bunga edelweis yang selalu hidup dihatiku dan tak akan pernah mati
bahkan untuk saat ini dan untuk tahun-tahun berikutnya kau adalah bunga yang terindah dihatiku

satu kisah telah hadir menggantikan kenangan akan suatu kerinduan
satu kekosongan telah terisi oleh kerinduan akan suatu jawaban

waktu yang hadir,waktu yang pergi dan waktu yang akan kembali lagi seakan
menjadikan hidup ini laksana sinar mentari
hadir saat pagi menjelang
ada saat siang memancang
indah dikala senja
dan tenggelam saat malam memanggil

setetes embun di rona wajahmu
menampilkan indahnya sinar sang rembulan
kicauan burung menyanyikan suara ketenangan
walau berujung akan suatu pertanyaan

untaian kata yang terikat masa
menanti hening di kala senja
dan menanti peristirahatan saat beranjak tua

waktu adalah teman
waktu adalah musuh
ia juga adalah jawaban
ia juga adalah pertanyaan

maka bertemanlah dengan waktu dan kau akan tau betapa berharganya ia
dan jawaban pun akan engkau temui.

Pagi Bunga Abadi

sesaat aku tertegun, melihat kilau ufuk timur
membias dibalik raksasa hijau yang tertidur kokoh
memberi hangat kepada ku
yang masih menggigil menghapus malam
dari sisasisa belenggu dingin dini hari

kabut kelabu mulai sirna
tak kuasa diterpa fajar yang mengintip ujung langit
Semerbak wangi hijau pagi
jadi antar setapak jejak dimulai
langkah demi langkah

sejuk menerpa, tapi ragu masih tersisa
semak belukar mengantar, terjal menjegal dan tebing tinggi menghalangi
namun ku harus tetap berjalan meski hanya berbekal segenggam bunga abadi
: edelweiss